KEDUDUKAN
ORANG TUA
Bersyukur
Pada Ibu Bapak
(Qs.Luqman
ayat 13-15)
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen pengampu : Muhammad Hufron,
M.S.I
Disusun oleh:
Eva Arifia (2119297)
Kelas E
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kita
panjatkan kehadirat Allah SWT.Dan kepada Rasulullah Saw.Atas berbagai
nikmat,rakhmat,taufik,dan hidayahnya sehingga kita dapat menyusun dan
menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat
memahami bagaimana cara mengetahui Bersyukur pada ibu bapak dalam
tafsir tarbawi. Dengan ini kami berharap agar materi kami dapat memberikan
wawasan lebih luas untuk para pembaca.Kami sadar bahwa di makalah ini masih
banyak kekurangan, untuk itu kepada dosen pembimbing kami meminta untuk diberi
masukan demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang dan
mengharapkan kritikdan saran dari para pembaca.Kami menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang terlibat baik secara langsung atau tidak.
Pekalongan,
Oktober 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL………………………………………………………..
KATA
PENGANTAR………………………………………………………
DAFTAR
ISI……………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah……………………………………………
B.
Rumusan
Masalah………………………………………………….
C.
Tujuan Penulisan……………………………………………………
BAB II PEMBAHASAN
A.
Hakikat
Bersyukur…..………………………………………………….
B.
Teori :
Bersyukur pada Ibu Bapak……………………………………
C.
Dalil
Bersyukur pada Ibu Bapak………………………………………
D.
Analisis :
Bersyukur pada Ibu Bapak………………….………………
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan…………………………………………….
B.
Saran………………………………………………………..
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Islam adalah agama satu-satunya yang
diridhai Allah SWT. Di dalam islam terdapat berbagai macam bentuk perintah
maupun larangan yang semua itu bertujuan untuk kebaikan pemeluknya. Salah satu
bentuk dari perintah islam kepada pemeluknya ialah berbakti kepada kedua orang
tua. Orang tua merupakan salah satu kunci sukses seseorang hamba baik di dunia
maupun di akhirat. Sebab Rasulullah SAW telah mengisyaratkan bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang
tua dan murka Allah tergantung pada ridha orang tua. Oleh sebab itu, wajib
hukumnya bagi seorang muslim untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua,
selama tidak bertentangan dengan syariat Allah SWT.
Diantara bentuk berbakti itu adalah
bersyukur kepada keduanya, sebab manifestasi dari bersyukur kepada mereka tidak
lain ialah bersyukur pula kepada Allah SWT. Berkat jasa orang tua kita ada di
dunia ini dan kepada Allah kita wajib untuk mensyukuri hal tersebut.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa hakikat bersyukur?
2. Bagaimana teori : Bersyukur pada Ibu
Bapak?
3. Apa dalil bersyukur pada Ibu Bapak?
4. Bagaimana analisis bersyukur pada Ibu
Bapak?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk mengetahui hakikat bersyukur
2. Untuk mengetahui teori bersyukur pada Ibu
Bapak
3. Untuk mengetahui dalil bersyukur pada Ibu
Bapak
4. Untuk mengetahui analisis bersyukur pada
Ibu Bapak
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat bersyukur
Dalam buku 17 cara mudah rezeki berlimpah
karya Majid asy-Syahwi menjelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua
merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Secara tidak langsung juga
ketaatan kita kepada Allah SWT. Mengenai keutamaan bersyukur, Allah SWT.[1]
berfirman : ت كفرون فاذكروني اذكركم واشكروا لي
ولا
Artinya :
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari
(nikmat)-Ku”.(Qs.Al-Baqarah :152)
Syukur
termasuk tempat persinggahan yang paling tinggi dan lebih tinggi dari pada
ridha. Ridha sendiri adalah tahapan dalam bersyukur. Allah memerintahkan
bersyukur dan melarang kebalikannya, memujinya dan memberikan tambahan
karunia-Nya.[2]
Hakikat syukur memiliki tiga tahapan, yaitu
pertama tahapan pikiran, berawal dari siapa pemberi semua karunia ini?
(perenungan,pengenalan, dan iman). Kedua, tahapan ucapan, bagaimana kita mampu
mengucapkan bersyukur melalui lisan. Ketiga, tahapan perbuatan, ialah berfikir
dengan benar mengenai tujuan kita diberi karunia ini untuk apa?. Oleh karena
itu, sebagaian ulama berkata : Syukur ialah pemanfaatan hamba atas segala
karunia yang Allah berikan kepadanya.[3]
Adapun hakikat bersyukur
kepada orang tua ialah kita mampu mempergauli mereka dengan baik. Sebab menurut
Abdullah bin Abbas, ada keterkaitan antara bersyukur kepada Allah dan bersyukur
pada orang tua, yaitu keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika kita
hanya bersyukur kepada Allah , tetapi melupakan jasa-jasa orang tua , maka
syukur yang kita lakukan tidak akan diterima di sisi Allah, begitu pula
sebaliknya.[4]
B.
Teori : Bersyukur pada Ibu Bapak
a. Pengertian Bersyukur
Syukur dalam KBBI,
diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah swt, dan untunglah (menyatakan
perasaan lega, senang dan sebagainya). Sedangkan secara bahasa syukur adalah
pujian kepada yang telah berbuat baik atas apa yang dilakukan kepadanya.
Seperti yang akan di bahas dalam Qs.Luqman ayat 13-15 bahwa manusia wajib
bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepada
hamba-Nya. Kemudian juga bersyukur terhadap kedua orang tua karena telah
melahirkan, merawat, menyayangi, serta menafkahi keluarganya. Rasa syukur
tersebut tidak hanya diungkapkan oleh kata-kata melainkan juga dengan perbuatan
seperti melaksanakan shalat, serta segala perintah Allah swt lainnya. Kemudian berbakti,
menghormati, serta menyayangi kedua orang tua juga termasuk bukti rasa syukur
anak terhadap orang tuanya.
b. Pengertian Orang tua (ibu,
bapak)
Orang tua adalah pengertian
umum dari seseorang yang melahirkan kita , orang tua biologis. Namun orang tua
juga tidak selalu dalam pengertian yang melahirkan. Orang tua juga bias
terdefinisikan terhadap orang tua yang telah memberikan arti kehidupan bagi
kita, orang tua yang telah mengasihi kita, memelihara kita sedari kecil. Bahkan
walaupun bukan yang melahirkan kita ke dunia, namun mereka yang memberikan
kasih sayang adalah orang tua kita. Maka atas semua jasa orang tua,
bersyukurlah kamu terhadap Allah dan orang tuamu karena mereka telah merawat
anaknya dengan tulus meskipun lelah tetapi apa yang dilakukannya ikhlas karena
Allah ta’ala. Dengan begitu sudah sepatutnya seorang anak sebaiknya berbakti
kepada kedua orang tua. Akan tetapi ketika orang tua mengajarkan hal-hal yang
tidak sesuai dengan syari’at islam seperti menyekutukan Allah dengan berhala
ataupun ciptaan Allah yang lainnya, sebagai anak dapat membantahnya dengan
catatan harus tetap berhubungan baik dengan kedua orang tuanya. Jangan sampai
silaturrahmi antara anak dengan orang tua rusak. Karena sesungguhnya Allah
menyukai kedamaian
C.
Dalil Bersyukur pada Ibu Bapak
واذقال لقمان لابنه وهويعظه يابني لا تشرك
بالله ان الشرك لظلم عظيم (13) ووصيناالانسان بوالديه حملته امه وهنا على وهن
وفصاله في عامين ان اشكر لي ولوالديك الي المصير(14) وان جاهداك على ان تشرك بي ما
ليس لك به علم فلا تطعهما في الدنيا
معروفا واتبع سبيل من اناب الي ثم الي
مرجعكم بما كنتم تعملون (15)
Artinya :
(13) Dan ingatlah tatkala Luqman
berkata kepada puteranya, dikala dia mengajarinya : Wahai anakku! Janganlah
engkau persekutukan dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan itu adalah
aniaya yang amat besar.
(14) Dan kami wasiatkan kepada
manusia terhadap kedua ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
payah. Dan memeliharanya dalam masa dua tahun. Bahwa bersyukurlah kamu kepada
Allah dan kedua orang tuamu kepadaKu-lah tempat kembali.
(15) Dan jika keduanya mendesak
engkau bahwa hendak mempersekutukan Daku dalam hal yang tidak ada ilmu engkau
padanya, janganlah engkau ikuti keduanya dan pergaulilah keduanya didunia ini
dengan sepatutnya. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada Aku. Kemudian
itu kepada Akulah kamu sekalian akan pulang. Maka akan aku beritakan kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan.
1) Tafsir Al-Misbah
Ayat ke-13 menekankan bahwa
perlunya menghindari syirik. Larangan ini sekaligus mengandung pesan bahwa
tanggung jawab orang tua, khususnya ibu sangat besar kepada anaknya, dia
bersusah payah mengandung, kemudian menyapih selama dua tahun. Ini juga
menekankan seorang anak untuk bersyukur kepada Allah, karena berkat perantara
orang tua ia bias berada di dunia. Ayat terakhir dari pembahasan ini menekankan
juga pentingnya berbakti kepada ibu bapak. Pengecualian dapat terjadi, ketika
kedua orang tua menyuruh atau memaksa kita untuk mempersekutukan Allah, maka
tidak ada kewajiban untuk menaatinya, akan tetapi jangan memutuskan hubungan
atau tidak menghormatinya.[5]
2) Tafsir Al-Qurthubi
Ketika turun Qs.Al-An’am : 82
para sahabat Rasulullah SAW merasa berat dan sedih, “Siapa diantara kami yang
tidak pernah menzalimi dirinya? Maka Rasulullah SAW bersabda, mengenai maksud
Qs. Al-An’am :82 adalah sebagaimana Qs. Luqman : 13. Akhirnya kesedihan mereka
pun reda disebabkan berita dari Allah lewat seorang hamba yang diberi karunia
Allah.
Rangkaian ayat 14 dan 15
ini menjelaskan bahwa jangan kamu menyekutukan Allah dan janganlah kamu taat
kepada orang tua mu dalam hal berbuat syirik. Sebab Allah, telah mewasiatkan
untuk taat kepada mereka selama hal-hal tersebut tidak ada kaitanya dengan
kesyirikan dan kemaksiatan. Kedua, keistimewaan seorang ibu melebihi seorang
ayah. Rasulullah SAW menjadikan untuk ayah seperempat dari kebaktian seorang
anak. Terakhir, perintah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat iman dan
kepada kedua orang tua atas nikmat
pendidikan.[6]
3) Tafsir Al-Azhar
“ Wahai anakku! Janganlah engkau
persekutukan dengan Allah”. Artinya janganlah engkau mempersekutukan Tuhan yang
lain dengan Allah. Karena tidak ada Tuhan selain Allah. “ Sesungguhnya
mempersekutukan itu adalah aniaya yang amat besar”.(ujung ayat 13), yaitu
menganiaya diri sendiri, memperbodoh diri sendiri.
“Dan kami wasiatkan kepada
manusia terhadap kedua ibu-bapaknya”.(pangkal ayat 14), wasiat kalau datangnya
dari Allah sifatnya ialah perintah. Tegasnya ialah bahwa Tuhan memerintahkan
manusia agar menghormati dan memuliakan ibu-bapaknya. “Ibunya telah mengandung
dalam keadaan payah bertambah payah”. Dalam ayat ini digambarkan bagaimana
susah payah ibu ketika mengandung. “Dan memeliharanya dalam masa dua tahun”,
yaitu sejak melahirkan lalu mengasuhm, menyusukan, serta memelihara dikala
sakit dan senang. “Bahwa bersyukurlah kamu kepada Allah dan kepada orang
tuamu”. Syukur pertama ialah kepada Allah. Sejak dalam kandungan sampai dalam
pengasuhan Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya. Setelah itu bersyukurlah
kepada kedua orang tua. Ibu yang mengasuh serta ayah yang membela dan
melindungi ibu dan anak-anaknya.
“Dan jika keduanya mendesak
engkau bahwa hendak mempersekutukan Daku dalam hal yang tidak ada ilmu engkau
padanya”.(pangkal ayat 15). Allah adalah puncak dari segala ilmu dan hikmah.
Wajib menghormati orang tua selama tidak menukarkan tauhid dengan syirik. “Dan
pergaulilah keduanya di dunia ini dengan sepatutnya”. Artinya bahwa keduanya
selalu dihormati, disayangi dengan yang ma’ruf. Dilarang untuk mencaci dan
menghina keduanya jika berlainan dengan akidah. “Dan ikutilah jalan orang-orang
yang kembali kepada Aku”. Yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang
berfirman. “Kemudian itu kepada Akulah kamu sekalian akan pulang”. Datang dan
pulangnya kita adalah dari Allah, dan kepada-Nya lah kita semua akan
dikumpulkan. “Maka akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan”.(ujung ayat 15). Allahlah yang kelak akan menilai baik buruknya apa
yang kamu amalkan selama di dunia.[7]
D. Analisis Bersyukur pada
Ibu Bapak
Bersyukur terhadap Allah karena nikmat-Nya
dan orang tua karena mereka telah melahirkan, menjaga, serta merawat anaknya
dengan rasa tulus meskipun lelah tetapi apa yang dilakukannya ikhlas. Dengan
begitu sudah sepatutnya seorang anak sebaiknya berbakti kepada kedua orang tua,
menyayangi, serta merawat kedua ibu bapaknya. Akan tetapi ketika orang tua
mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat Islam seperti menyekutukan
Allah yang lainnya, sebagai anak dapat membantahnya dengan catatan harus tetap
berhubungan baik dengan kedua orang tuanya. Jangan sampai hubungan atau
silaturahmi antara anak dan orang tuanya terputus. Adapun aspek pembelajaran
yang dapat diambil dari pemaparan diatas adalah :
1.
Bersyukur kepada Allah atas rahmat-Nya sehingga kita diberi kesempatan hidup
didunia, dan beribadah kepada-Nya
2.
Bersyukur terhadap orang tua atas kasih sayangnya
3.
Perbedaan keyakinan antara anak dan orang tua tidak membuat hubungan menjadi
renggang diantara keduanya
Bahwa penghormatan dan kebaktian kepada
kedua orang tua menempati tempat kedua setelah pengagungan kepada Allah swt.
Kesuksesan yang diraih seorang anak selain dengan usaha dan doa anak, peran
do’a orang tua juga sangat mempengaruhi keberhasilan anaknya. Maka dalam hal
ini perlu diingat bahwa orang tua tidak hanya sebagai orang yang melahirkan,
berkewajiban memberi nafkah, tetapi lebih dari itu semua dengan berbakti kepada
orang tua dapat menghantarkan anak tersebut menuju surga.
Maka atas semua jasa orang tua bersyukurlah terhadap Allahdan orang
tuamu karena mereka telah melahirkan, menjaga, serta merawat anaknya dengan
rasa tulus meskipun lelah tetapi apa yang dilakukannya ikhlas karena Alla
ta’ala. Dengan begitu sudah sepatutnya seorang anak sebaiknya berbakti kepada
kedua orang tua. Akan tetapi ketika orang tua mengajarkan hal-hal yang tidak
sesuai syariat Islam seperti menyekutukan Allah dengan berhala ataupun ciptaan
Allah yang lainnya, sebagai anak dapat membantahnya dengan catatan harus tetap
berhubungan baik dengan kedua orang tuanya. Jangan sampai silaturahmi antara
anak dengan orang tua terputus.
Penerapan bersyukur dalam
kehidupan sehari-hari, antara lain :
1. Hendaklah menanamkan keimanan kepada anak
sejak dini untuk senantiasa taat kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya
2. Wajib bersyukur kepada Allah
atas karunia yang diberikan-Nya
3. Senantiasa pula bersyukur
kepada kedua orang tua atas jasa-jasa mereka kepada kita
4. Wajib mentaati orang tua
selama tidak bertentangan dengan syariat
5. Tetap berbuat baik orang tua
walaupun dalam hal akidah mungkin terdapat perbedaan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari beberapa uraian
diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.Tauhid merupakan aspek
tertinggi yang harus dimiliki oleh setiap muslim
2. Adanya hak dan
kewajiban merupakan bentuk keadilan Allah kepada hambanya
3. Berbakti kepada kedua
orang tua merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT
4. Hakikat bersyukur
kepada orang tua sendiri ialah kita mampu mempergauli mereka dengan baik
5. Terdapat hubungan erat
yang tidak bias dipisahkan antara bersyukur kepada orang tua dengan bersyukur
kepada Allah, yang mana bersyukur kepada orang tua merupakan cerminan dari taat
dan bersyukur kepada Allah
6. Hukum asli dari
perintah adalah wajib, selama tidak ada dalil yang mengecualikannya,
sebagaimana perintah Allah kepada manusia agar berbakti kepada orang tua selama
tidak melanggar syari’at agama
B. Saran
Penulis menyarankan bagi para
pembaca agar dapat memahami makalah Bersyukur pada Ibu Bapak ini, penulis juga
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qurthubi. 2009. Tafsir Al-Qurthubi
terj.Fathurrahman A.H, Dudi Rosyadi, Marwan A. Jakarta : Pustaka Azzam
Asy-Syahawi, Majid. 2010. 17 Cara Mudah Rezeki Berlimpah, terj. Musthofa
Sukawi. Surakarta : Al-Jadid
Gunawan, Heri. 2014. Keajaiban Berbakti Kepada Kedua Orang Tua. Bandung :
Remaja Rosdakarya
Hamka. 2002. Tafsir Al-Azhar jus xxl. Jakarta : Pustaka Panjimas.
Husain Husaini, Said. 2013. Bertuhan dalam Pusaran Zaman : 100 Pelajaran
Penting Akhlak dan Moralitas terj. Yusuf Anas. Jakarta : Citra
Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu. 1998. Madarijus Salikin terj. Kathur Sunardi.
Jakarta : Pustaka Al-Kautsar
Shihab, Quraish. 2006.
Tafsir Al-Misbah cet. Ke-5. Jakarta : Lentera Hati
[1] Majdi
asy-Syahawi, 17 Cara Mudah Rezeki Berlimpah, terj. Musthofa Sukawi
(Surakarta: Al-Jadid, 2010) hlm. 117-118
[2] Ibnu Qayyin
Al-Jauziyah, Madarijus Salikin terj.Kathur Sunardi (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 1998) hlm. 235-236
[3] Said Husain
Husaini, Bertuhan dalam Pusaran Zaman:100 pelajaran penting akhlak dan
moralitas terj. Yusuf Anas (Jakarta : Citra, 2013) hlm.495-496
[4] Heri Gunawan, Keajaiban
Berbakti Kepada Kedua Orang Tua (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2014) hlm.4
[5]
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah cet. Ke-5 (Jakarta : Lentera Hati,
2006)hlm.125-131
[6] Al-Qurthubi, Tafsir
Al-Qurthubi terj. Fathurrahman A.H, Dudi Rosyadi, Marwan A. (Jakarta:
Pustaka Azzam, 2009) hlm. 150-156
[7] Hamka, Tafsir
Al-Azhar juz xxl (Jakarta : PustakaPanjimas, 2002) hlm.127-131

No comments:
Post a Comment